Apakah ‘FOMO Finansial’ Menggerogoti Tabungan Anda?

Kalau kamu pernah ngerasain FOMO yang parah, kamu tidak sendiri. Masalahnya, hal ini bisa bahaya untuk keuangan kamu.

Dari TikTok tentang crypto yang mendadak kaya sampai temen yang pamer skincare mahal, FOMO finansial itu biasa. Survey menunjukkan bahwa membandingkan diri dengan orang lain di media sosial membuat orang lebih gampang boros dan investasi yang beresiko.

Tapi saat rasa takut atau cemas yang mengendalikan keputusan uang kamu, biasanya berakhir dengan kesalahan. Mengerti cara mengenali (dan menghentikan) FOMO finansial bisa jadi kunci untuk mengatur tabungan kamu.

Konten ini tidak tersedia di wilayah Anda.

“Fear of missing out” — atau FOMO — adalah perasaan cemas bahwa orang lain mengalami hal yang lebih menyenangkan atau seru daripada kamu. FOMO bisa bikin kamu pergi, jalan-jalan, atau beli barang tertentu supaya bisa sama kayak temen-temen, meskipun sebenarnya kamu tidak terlalu ingin.

FOMO finansial khususnya adalah takut ketinggalan peluang yang berhubungan dengan uang. Contohnya, kamu ikut-ikutan investasi yang lagi tren, boros saat ada diskon, atau terburu-buru dalam keputusan uang penting karena merasa orang lain melakukannya dan dapat untung.

Jadi, apa penyebab FOMO? Kata ahli, bisa dari banyak hal, tapi media sosial sering berperan besar. Setengah dari orang yang ditanya dalam satu survey Empower bilang, melihat orang lain beli sesuatu di media sosial bikin mereka pengen beli juga karena takut ketinggalan.

“Kita sebagai masyarakat sering tidak nyaman bicara soal uang, dan ini bisa bikin orang boros supaya bisa mengikuti teman atau penampilan di media sosial, daripada jujur tentang keadaan keuangan mereka,” kata Julie Beckham, seorang ahli pendidikan keuangan.

MEMBACA  Penderitaan Para Migran Sangat Disalahpahami. Apakah Sebuah Permainan Video Dapat Membantu?

Ditambah lagi, lebih mudah tergoda ketika media sosial kamu penuh dengan iklan, gadget, konten jalan-jalan, konser, pengalaman makan mewah, dan lain-lain.

Tapi, kepuasan jangka pendek dari beli impulsif biasanya berujung pada masalah keuangan jangka panjang, menurut Beckham.

Baca selengkapnya: Behavioral Finance 101: 7 Cara Otak Kamu Bisa Mengacaukan Keuangan

Saat keputusan belanja kamu didorong rasa takut ketinggalan, dan bukan karena kebutuhan atau nilai-nilai kamu yang sebenarnya, ini bisa merusak tujuan jangka panjang dan rasa aman keuangan kamu.

Beberapa cara FOMO finansial bisa berdampak buruk:

Beli impulsif karena diskon: FOMO bikin diskon waktu terbatas dan barang yang lagi hits terasa mendesak. Akhirnya kamu beli barang yang tidak direncanakan, jadi uang untuk tabungan kamu berkurang.

Ikut tren daripada ikut budget: Melihat orang lain meningkatkan gaya hidup, jadi gampang membenarkan pengeluaran yang sebenarnya tidak mampu. Ini bikin pengeluaran bulanan naik, sementara tabungan menciut.

Numpuk hutang yang tidak perlu: FOMO bisa bikin kamu pakai kartu kredit untuk beli barang yang tidak mampu, cuma supaya bisa ikut-ikutan. Dan kalau hutangnya tidak dibayar lunas, bunga yang tinggi bikin hutang kamu tumbuh lebih cepat dari tabungan.

Investasi beresiko yang gagal: Melihat orang lain “dapat untung besar” bisa dorong kamu masuk investasi yang naik turun atau spekulatif. Tapi saham meme dan investasi crypto yang tidak jelas biasanya cuma menguntungkan sedikit orang — dan saat semua orang membicarakannya, biasanya sudah terlambat untuk ikut. Kalau pasar berubah, kamu bisa kehilangan uang yang seharusnya bisa ditabung atau diinvestasikan dengan cara yang lebih aman.

Tidak fokus pada tujuan jangka panjang: FOMO mengalihkan perhatian kamu ke apa yang orang lain lakukan, bukan apa yang terbaik untuk kamu. Gangguan ini bisa bikin kamu lupa pada prioritas dan rencana jangka panjang kamu.

MEMBACA  Inilah Hal yang Bisa Anda Harapkan

Tapi, sedikit FOMO tidak selalu buruk. Survey Empower yang sama menemukan bahwa lebih dari 15% orang yang mengalami FOMO finansial bilang hal itu memotivasi mereka untuk investasi, sementara yang lain bilang itu membuat mereka buka rekening tabungan baru (14%) atau memperbaiki strategi bayar hutang mereka (13%).

Kuncinya adalah mengubah FOMO finansial kamu jadi kebiasaan uang yang positif. Contohnya, melihat teman mencapai tujuan besar (seperti beli rumah atau biayai kuliah) bisa bikin kamu lebih serius merencanakan keuangan, daripada menundanya. Liburan teman kamu ke Maldives bisa menginspirasi kamu untuk mengurangi pengeluaran untuk hal-hal tidak penting dan mulai serius menabung untuk jalan-jalan.

Baca selengkapnya: Cara Saya Menggabungkan Kartu Kredit Travel dan Rekening Tabungan Berbunga Tinggi untuk Maksimalkan Liburan Keluarga

Kalau kamu susah melawan FOMO finansial, langkah pertama adalah ubah cara pikir kamu. Kalau kamu selalu merasa kecewa setiap lihat sesuatu di media sosial yang tidak mampu kamu beli, kamu mungkin lupa pada semua hal yang *bisa* kamu lakukan dan tujuan keuangan yang akan tercapai kalau kamu patuh pada anggaran.

Beckham bilang saran terpentingnya adalah buat rencana belanja yang disengaja. “Mulai dari awal dan rajin menabung serta buat anggaran bisa sangat berhasil dan menempatkan kamu pada posisi yang lebih baik untuk menilai pengeluaran tambahan apa yang bisa kamu iyakan,” jelas Beckham. “Lebih enak rasanya menabung setahun untuk pergi liburan, daripada pergi liburan lalu menghabiskan tahun depan untuk bayar liburan itu, ditambah bunganya.”

Membuat anggaran berdasarkan nilai bisa bantu kamu menyelaraskan keputusan belanja dengan hal dan pengalaman yang benar-benar penting untuk kamu. Saat kamu tergoda untuk beli sesuatu, tanya diri sendiri apakah pembelian itu sesuai dengan nilai-nilai kamu. Kalau tidak, kamu akan merasa lebih baik untuk tidak membelinya.

MEMBACA  Laju inflasi Inggris tetap tak terduga pada bulan Januari, meringankan kekhawatiran BoE Menurut Reuters

Kalau kamu gampang tergoda dengan yang kamu lihat di media sosial, siapkan diri untuk sukses dengan lebih sadar tentang konten yang kamu konsumsi.

Pertimbangkan untuk atur setelan akun kamu untuk batasi jumlah dan jenis iklan yang kamu lihat, dan batasi waktu layar harian untuk kurangi waktu kamu scroll. Kamu mungkin akan lebih mudah hindari FOMO finansial kalau kamu tidak lihat apa yang kamu lewatkan.

Menolak ajakan bukanlah kejahatan. Kalau kamu diajak makan malam mahal atau jalan-jalan akhir pekan yang tidak sesuai anggaran, belajar untuk bilang “tidak” demi kebaikan keuangan kamu sendiri. Ngobrol yang terbuka dan jujur dengan orang terdekat bisa bantu mereka lebih mengerti kenapa kamu tidak bisa ikut, dan mungkin malah bikin mereka cari alternatif yang lebih murah supaya kamu tidak ketinggalan.

Baca selengkapnya: Bagaimana Tren ‘Loud Budgeting’ Bisa Bantu Kamu Lebih Banyak Nabung