Upacara Publik Panggilan Telepon Hamas ke Keluarga Sandera

Hamas sungguh tak mampu menepati janjinya. Bahkan untuk permintaan yang paling sederhana sekalipun.

Kelompok teroris itu, bersenjata dan berseragam, menghubungi keluarga para sandera dan memerintahkan mereka: “Publikasikan ini. Sebarkan berita ini.”

Memang, merupakan perasaan yang luar biasa bagi para keluarga untuk akhirnya dapat berbicara dengan anak-anak mereka setelah dua tahun penuh penderitaan. Namun, menyaksikan militan Hamas yang bermuka tertutup berdiri di samping anak mereka adalah sebuah pengalaman yang traumatik. Menurut laporan N12, salah satu keluarga bahkan menolak untuk menerima panggilan semacam itu.

Anak mereka direnggut dari rumah atau dari festival musik oleh para militan Hamas yang bertopeng itu. Dan kini, di saat-saat terakhir mereka hendak dibebaskan, para militan itu masih tak rela melepas momen terakhir untuk tidak mengakibatkan trauma psikologis tambahan pada para sandera dan keluarganya.

Dalam konteks pelepasan sandera yang tegang dan sarat emosi ini, tindakan pembebasan justru mengambil dimensi pertunjukan yang menjijikkan. Hamas telah menyutradarai apa yang dapat digambarkan sebagai gestur “seremonial” dengan mengatur panggilan telepon dan video antara sandera dan keluarga mereka.

Dengan mengadakan panggilan-panggilan ini, Hamas memposisikan dirinya sebagai penjaga gerbang komunikasi hingga detik terakhir. Gestur semacam ini juga dapat berfungsi untuk mengantisipasi kritik atau tekanan internasional, karena dengan menampilkan sandera yang masih hidup dan tersenyum saat pertama kali menghubungi keluarga dalam dua tahun, Hamas dapat mengklaim telah memberikan perlakuan yang manusiawi, meskipun kebrutalan mereka sebenarnya telah terlihat jelas.

Panggilan-panggilan ini telah disiarkan secara publik, mengubah momen-momen privat menjadi tontonan umum.

Meskipun tidak ada upacara publik seperti pada masa lalu ketika sandera dibebaskan, kita tidak dapat memungkiri bahwa ini adalah cara kelompok tersebut untuk menunjukkan bahwa mereka masih mengendalikan para sandera—sampai saat-saat terakhir. Bukan Palang Merah yang hanya bertindak sebagai supir Uber yang dimuliakan, bukan pula TNI Israel yang telah menepati janjinya dan menarik pasukannya.

MEMBACA  Dinasti Murdoch yang Baru: Pergulatan Kekuasaan dan Transisi

Hamas-lah yang masih memegang kendali.

Namun, para sandera kini telah menjadi Mantan Sandera. Mereka tak perlu lagi khawatir dengan para militan bertopeng itu. Mereka sudah bebas sekarang.