Tompi Kritik Menteri Keuangan Sri Mulyani Soal Dana Rp200 Triliun

Minggu, 21 September 2025 – 00:20 WIB

Penyanyi sekaligus dokter, Tompi, kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, bukan melalui musik atau profesinya sebagai dokter, tetapi lewat kritik tajamnya terhadap kebijakan pemerintah dalam mengelola dana besar.

Tompi menyoroti langkah pemerintah yang menaruh dana jumbo sebesar Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk. Menurutnya, meskipun jumlah dananya sangat besar, dampaknya buat masyarakat belum kelihatan, terutama dalam hal bunga pinjaman bank.

“Udah diguyur Rp200 T, tapi bunga pinjaman masih tinggi aja. Nyaris gak gerak dari bunga lama,” tulis Tompi di akun X-nya, @dr_tompi, pada Minggu, 21 September 2025.

Dalam unggahannya, Tompi secara langsung menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dia mempertanyakan efektivitas penempatan dana itu, yang seharusnya bisa memacu perekonomian melalui penurunan bunga pinjaman.

Namun, kenyataannya menurut Tompi, bunga kredit tetap tinggi. Kondisi ini bikin masyarakat atau pelaku usaha susah dapat akses pembiayaan dengan biaya yang lebih ringan.

“Gimana nih pak Menkeu? Kalau masih tinggi begini, dana itu akan ngendap aja nantinya di bank. Bukankah tujuannya untuk menggerakkan ekonomi?” tambahnya.

Kritik Tompi menunjukkan kekhawatiran sebagian masyarakat bahwa dana triliunan rupiah tersebut bisa berakhir cuma sebagai simpanan di bank tanpa manfaat yang nyata. Padahal, tujuan utamanya adalah untuk mendorong aktivitas ekonomi, mempercepat pemulihan, dan membantu masyarakat melalui kredit yang lebih terjangkau.

Komentar Netizen

“Ga semudah membalikkan telapak tangan. Lu ga bisa sabaran tom?”

“Baru juga berapa hari Tompel…. Sabar dan tunggu dulu, ada rakyat yg menilai”

“Tompi benar. Dokter saja ngerti Pasar Uang/Perbankan. Sayang Purbaya walaupun kakak kelas..maaf hanya Ahli Pasar Modal (mantan di sekuritas). Ilmu perbankan kurang..maaf.”

MEMBACA  Perdana Menteri Polandia Berjanji Memperkuat Keamanan di Perbatasan UE dengan Belarus

Halaman Selanjutnya

Namun, kenyataannya menurut Tompi, bunga kredit tetap saja tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat atau pelaku usaha sulit mendapatkan akses pembiayaan dengan biaya lebih ringan.