Ulasan Kursi Anthros V2: Sangat Bagus Secara Mengejutkan

Jarang bagiku untuk tetap duduk di kursi yang sedang kureview setelah memberinya cukup waktu uji coba. Biasanya, aku ingin kembali ke Herman Miller Embody, yang terasa pas untuk tubuhku. Tapi Anthros V2 menjadi kejutan yang menyenangkan. Kursi ini sudah ada di radar ku selama beberapa bulan berkat iklan Instagram yang tiada henti, tapi jujur saja, itu malah membuatku lebih skeptis.

Anthros adalah pendatang baru di industri ini, meluncurkan versi pertama kursinya pada tahun 2023. Mereka mengklaim bisa memperbaiki postur dan memberikan dukungan lebih baik dibanding kursi kantor ternama seperti Herman Miller. Harganya pun tak main-main—V2 ini dijual lebih dari $2.000, meski sering diskon jadi sekitar $1.900.

Tapi setelah hampir dua bulan duduk di kursi ini, klaimnya terbukti—kurasakan dukungannya lebih baik dari hampir semua kursi yang pernah kucoba, dan posturku jadi jauh lebih baik. Embody tetap spesial di hatiku, tapi Anthros V2 mungkin jadi kursi terbaik untukmu yang ingin memperbaiki postur, apalagi jika sering sakit punggung.

Dukungan Panggul

Foto: Julian Chokkattu

Kursi Anthros fokus pada dukungan panggul, bukan lumbar, mirip seperti Aeron dan Embody dari Herman Miller. Bedanya, Anthros memberi lebih banyak penyesuaian di sandarannya. Setelah mengaturnya, aku melakukan panggilan dengan terapis ergonomi Anthros—layanan yang disediakan untuk setiap pembeli. Terapis akan melihat cara dudukmu (lewat video call) dan memberi saran sampai kamu nyaman. Aku berharap semua kursi mewah menyediakan layanan seperti ini.

Dua tombol di belakang kursi mengontrol sistem sandaran dua bagian. Tombol kanan menggerakkan sandaran lumbar maju-mundur, sementara tombol kiri mengatur bagian atasnya. Aku belum pernah duduk di kursi yang memungkinkan penyesuaian sedetail ini, dan itu membantuku menyesuaikan kursi persis dengan bentuk tubuh. Butuh waktu untuk membiasakan diri dengan sandaran atasnya.

MEMBACA  Liga Utama Sepak Bola: Saksikan Arsenal vs. Newcastle Secara Langsung dari Mana Saja

Di hari pertama, aku agak pegal karena rasanya kursi seperti mendorong masuk. Padahal, tidak ada tekanan sama sekali—lambat laun kurasakan punggungku bersandar dengan lembut. Itu adalah posturku yang sedang memperbaiki diri; terasa sangat tegak. Desainnya yang kompak juga mengajarkan bahwa sandaran tak harus menopang seluruh punggung untuk memberi dukungan, mirip dengan kepala yang tak selalu butuh headrest jika desain kursinya sudah bagus.

Aku sering bersandar di kursi ini, dan posturku tetap baik. Kamu bisa mengunci sandaran dengan tombol kiri depan, tapi aku membiarkannya terkunci pada ketegangan terketat (lewat tombol kanan depan), sehingga bisa bersandar perlahan. Tidak pernah terasa tidak nyaman. Mungkin juga karena bantalannya yang empuk—Cloudfloat—lebih tebal dari kebanyakan kursi kantor high-end.

Satu-satunya keluhanku adalah kedalaman tempat duduk yang kurang cocok untuk tinggi badanku (6’4″). Ada jarak sekitar enam jari antara ujung kursi dan belakang lututku, padahal idealnya dua sampai tiga. Bukan masalah besar, tapi akan lebih nyaman jika lebih panjang. Lebar kursinya pas untukku, tapi orang lebih tinggi mungkin merasa agak sempit.

Dukungan Maksimal

Foto: Julian Chokkattu

Ada banyak pilihan saat membeli kursi ini. Kamu bisa memilih rangka putih atau hitam, menambahkan panel belakang kayu atau desain tertentu, serta memilih pelapis kain atau kulit. Aku menggunakan kain Athlon Performance yang halus—setelah hampir dua bulan dipakai setiap hari, belum ada tanda-tanda mengelupas.