Headline

Berawal dari Pembuatan Kursi Lipat, Chitose Kuasai Pasar Furniture Indonesia

Berawal dari Pembuatan Kursi Lipat, Chitose Kuasai Pasar Furniture Indonesia
Ketarangan Gambar :  (Foto dok. Chitose- produk chitose/bisnisupdate.com)

Bisnisupdate.com, Jakarta- Berawal dari sebuah kursi lipat yang telah menjadi ikon industri mebel Indonesia, PT Chitose Indonesia Tbk terus tumbuh dan telah memproduksi lebih dari 200 varian mebel dan tempat tidur rumah sakit. “Kami pun terus memacu kapasitas produksi untuk menyediakan furniture terbaik kepada konsumen Indonesia,” kata Timotius J. Paulus, Vice President PT Chitose Indonesia Tbk.   

Chitose telah menghasilkan mebel khusus sesuai spesifikasi dari pelanggan. Hal tersebut menunjukan bahwasanya pelanggan percaya dan mengapresiasi produk Chitose. Nyatanya, distribusi Chitose sudah tersebar hingga pelosok Indonesia.

“Kami memiliki jaringan distributor dan agen yang tersebar di seluruh Indonesia, serta memiliki jaringan pemasaran ekspor lebih dari 30 negara,” ungkap Timotius J Paulus.

Guna mempertahankan positioning Chitose sebagai produk  kursi terbaik, Chitose terus melakukan riset dan pengembangan produk secara kontinyu. “Dalam 1 tahun kami pasti merilis 4 sampai 10 desain baru, dan ada beberapa desain yang mengadopsi dari input konsumen,” katanya. Tak heran jika Chitose semakin paiwai  menggaet banyak pelanggan di Indonesia, dan pasar dunia umumnya.

Untuk menjadi market leader di kategorinya, Chitose juga melakukan serangkaian gebrakan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada pelanggan,  mulai dari mengembangakan jaringan pemasaran dan distribusi di pasar tradisional, brand lokal yang awalnya berasal dari Jepang ini bekerjasama dengan berbagai retailer modern dan supermarket di seluruh Indonesia, dan menjalani direct selling serta mengelola online shopping. “Salah satu proyek direct selling Chitose yang sangat berhasil adalah penjualan langsung ke sekolah,” kata Timotius bangga.

Tempat tidur rumah sakit

Ia pun mengakui bahwasanya 50%  market share Chitose datang dari Pemerintah. “Tahun 2016 sedikit terkoreksi, karena beberapa tender pengadaan bangku sekolah dibatalkan, tapi kami masih bisa bernapas karena tidak semua proyek pengadaan terhenti, masih ada ceruk yang bisa kami olah,” kata Pria yang turut membesarkan Chitose paska jadi perusahaan terbuka ini.

Kini Chitose sudah memiliki 22 jaringan pemasaran di Indonesia, bahkan satu jaringan pemasaran bisa menguasai 1-3 provinsi. Tergantung wilayah yang berpotensi untuk memudahkan suplai.

Terkait dengan digital marketing, Timotius juga tak bisa menyangkal bahwa meski kini zamannya digital, Chitose juga sangat konsen terhadap perubahan pola konsumen. “Kami buka toko online dan kerjasama dengan beberapa market place yang ada, walaupun demikian,kami masih sangat konsen terhadap pemasaran offline, karena bisnis furniture tidak bisa lepas dari ranah konvensional,” ujarnya.

Guna memaksimalkan digital exposure brandnya, Chitose melakukan berbagai pengembangan, mulai dari pengembangan website, mengaktifkan social media, baik melalui facebook, twitter, instagram dan path. “Kami melihat saat ini social media menjadi alat komunikasi secara virtual dan bisa meng-engage konsumen lebih intim lagi,” katanya.

Di sosial media juga terjadi tanya jawab dengan customer. “Konsumen banyak bertanya soal  tempat penjualan produk Chitose, kesediaan barang hingga harga produk,” katanya.

Paulus mengungkapkan, 3 Strategi Chitose saat ini adalah memastikan ketersedian (stock) barang, delivery, peningkatan kualitas produk, dan pengembangan pasar. “Pengembangan kualitas dan desain produk dengan menyerap kebutuhan konsumen, sehingga riset dan pengembangan merupakan inti dari pertumbuhan Chitose selama ini. Dimana hal tesebut sejalan dengan motto Chitose ‘Innovation by your inspiration’,” ujar Timotius.

Untuk menjaga kualitas produk Chitose agar tetap lebih tinggi dibandingkan kompetitor, pihakya akan mempertahankan standar kualitas yang telah dimiliki. Bahkan kini Chitose sudah menyiapkan gedung baru sebagai tempat assembling, baik pemasangan kayu dan pengecatan. “Sedangkan ‘dapur kotor’ atau produksi ada di pabrik pertama,” ujarnya. 




X
Baca Juga