Business Knowledge

Saatnya Evaluasi di Kondisi Ekonomi yang Waswas

Saatnya Evaluasi di Kondisi Ekonomi yang Waswas
Ketarangan Gambar :  (dok/Ricky Fernando (Direktur Fox Business Consultant)/bisnisupdate.com)

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang waswas. Beberapa harga kebutuhan pokok yang mulai melonjak dan terus menguatnya kurs dollar menjadi salah satu indikasinya. Memang kenyataannya seperti itu. Kita tidak bisa mengatakan tidak, apalagi pura-pura menutup mata. Yang jelas, biasanya di saat resesi seperti ini penjualan akan menurun. Tapi tidak semua terkena dampak negatif atas kondisi saat ini.

Kalau saya lihat, faktor utama pemicu kondisi ekonomi saat ini adalah menguatnya mata uang asing. Jadi, saat ini yang sedang enak itu yang bergerak di bidang ekspor. Inilah masa panen bagi mereka karena pada dasarnya transaksi mereka pakai dollar. Meskipun harga tetap tapi kalau dirupiahkan tentu keuntungannya akan jadi lebih banyak daripada sebelumnya. Tapi akan berbeda dengan kondisi bisnis yang mengandalkan impor, yang justru terkena imbas dan terkena lampu merah saat ini.

Tetapi kondisi seperti ini tidak boleh membuat para pengusaha bersedih terus. Nah, justru ini adalah kesempatan bagi para pengusaha untuk mengoreksi internal perusahaan. Karena, kalau biasanya pengusaha terlalu sibuk mengamati pasar untuk mencari cara menjual produk, saat kondisi pasar tengah lesu seperti inilah waktunya pengusaha mengevaluasi, mengoreksi internal perusahaan. Apa kekurangan selama ini dan bagian mana yang harus diperbaiki.

Melakukan evaluasi ini juga berlaku bagi para pelaku UKM. Karena pada kondisi ekonomi saat ini semua sektor pasti terkena dampaknya. Semuanya pasti terkena imbasnya. Tapi, kalau khusus UKM biasanya akan terbatas pada modal atau dapur keuangan. Yang penting, bagaimana caranya mengelola modal itu agar tak habis untuk hal yang tidak perlu. Jadi, perlu penghematan besar-besaran karena modal yang terbatas.

Salah satu cara menyiasatinya adalah dengan memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Kemudian budget marketing harus benar-benar diperketat, mana yang efektif dan mana yang tidak. Kalau biasanya loyal, sekarang harus memilah-milah. Karena yang bisa dihemat harus dihemat, yang tidak perlu harus dihilangkan, dan kalau perlu tapi bisa ditunda, maka lebih baik ditunda dulu.

Masalah utama UKM itu biasanya memang ada di pengelolaan uang kas. Itu bisa terjadi karena manajemen yang masih amburadul. Masih banyak pelaku UKM yang masih mencampur uang perusahaan dan pribadi. Nah, kedua hal itu harus benar-benar dipisah, mana uang perusahaan dan mana milik pribadi. Jangan sampai uang perusahaan kepakai untuk kebutuhan pribadi. Karena lama kelamaan bisa habis. Kalau sudah begitu bisa-bisa ketika keadaan pasar kembali ramai dan butuh investasi ini-itu tidak ada uangnya. Makanya hal itu harus benar-benar diperhatikan.

Ada beberapa hal yang juga patut dievaluasi selain kas. Pertama, mengevaluasi kualitas produk. Jangan sampai kualitas produk itu tidak menentu, kadang bagus kadang jelek. Kalau begitu pelanggan bisa-bisa tidak akan kembali. Jadi kualitas pun harus stabil. Kedua, pelayanan juga harus stabil. Meskipun cuma UKM, tidak boleh menangani pelanggan asal-asalan. Tidak harus menunggu sebesar KFC atau MCD baru memerhatikan pelayanan. Dari kecil harus terus dibina.

Kemudian, yang ketiga adalah inovasi. Ini masih terus saya tekankan kepada pelaku UKM. Jangan sampai kalau sebelahnya jual nasi kuning dan ramai, besoknya kita ikut-ikut buka nasi kuning. UKM yang seperti itu cuma hanya jadi pengikut saja. Jadilah sesuatu yang original. Selalu berinovasi adalah yang terpenting. Tapi, mengeluarkan sebuah inovasi pun harus mengetahui momen yang tepat, jangan asal memperkenalkan ke publik begitu saja.

Kalau suatu produk atau perusahaan meluncur, biasanya ada 4 fase yang akan dilalui. Pertama introduction, lalu pertumbuhan, puncak, dan terakhir penurunan. Nah, idealnya, inovasi keluar ketika masa pertumbuhan mendekati masa puncak. Jadi, grafiknya supaya tidak langsung turun. Karena ketika mau turun maka akan naik lagi berkat inovasi. Jadi, jangan sampai begitu punya peluru 10 langsung dikeluarkan semua. Yang ada justru akan habis sewaktu perang.

Salah satu cara melihat apakah kita sudah berada di fase pertumbuhan atau belum itu dari segi penjualan. Masa pertumbuhan akan terjadi ketika penjualan kita di beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan di awal. Nah, itulah indikatornya. Jadi, justru kita tidak boleh terlena ketika penjualan meningkat. Begitu penjualan meningkat, langsung siapkan inovasinya. Harus terus berpikir apa inovasi berikutnya. Jangan terlalu terlena di comfort zone.

Rahardian Shandy




X
Baca Juga