Business Knowledge

Saatnya Bangun SDM yang Mumpuni Lewat Pakarnya

Saatnya Bangun SDM yang Mumpuni Lewat Pakarnya
Ketarangan Gambar :  (Freya Sri Purwanti – CO Director Star Hotel Institute/SVP Director Human Resource Management ISS Indonesia/bisnisupdate.com)

Bicara soal pendidikan atau pengembangan SDM ini bukanlah barang karbitan, karena kalau kita bicara pengembangan SDM ini bukan hanya sekedar mentransfer keterampilan saja. Tapi kalau kita bicara mengenai human research atau sumber daya, maka kita akan bicara sebuah paket secara utuh, di mana yang kita lihat adalah perilaku, keterampilan dan juga pengetahuannya. Agar memang ketika dipekerjaannya, SDM tersebut bisa bekerja secara mandiri. Sementara kalau hanya sekedar ditransfer saja keterampilannya, pada akhirnya yang terjadi SDM tersebut hanya akan bekerja berdasarkan apa yang diajarkan tapi tidak bekerja dengan tanggung jawab. Tidak juga dengan kemandirian.

Itu akan menimbulkan masalah baru. Jadi, seolah-olah kita seperti tidak bertanggung jawab sebagai pihak yang mengembangkan manusia. Apalagi mengembangkan manusia itu bicara juga soal proses, di mana proses manusia itu unik. Kalau barang mungkin kita bisa buat cetakannya, tapi kalau SDM tidak bisa demikian.

Apalagi SDM itu memiliki berbagai macam karakter. Inilah yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan SDM. Dan salah satu permasalahan di Indonesia adalah heterogennya. Kalau kita lihat, banyak hotel yang berkembang di Jawa, Bali dan Sulawesi. Tetapi, kebanyakan yang bekerja di service industry itu adalah orang Jawa, sedang orang Bali atau dari pulau lain jumlahnya lebih sedikit. Itu bisa menjadi gambaran bagaimana kita perlu mengetahui bahwa kekuatan karakter di setiap suku itu berbeda. Jadi, jangan sampai kita paksakan dengan metode yang sama.

Karena kalau nanti dipaksakan yang terjadi hanya sekedar transfer keterampilan. Tentunya, kita ingin mendapatkan orang yang tidak hanya bisa menunjukkan hospitality, tapi juga punya keterampilan dan bisa konsisten dengan kualitas yang dimiliki.

Inilah yang menjadi konsentrasi kami (Star Hotel Institute). Dan kami memang menyambut baik pihak-pihak yang juga tertarik untuk melakukan pengembangan SDM. Hanya saja, kami menginginkan pihak yang mempunyai visi sama seperti kami. Jadi, bukan hanya sekedar bahwa ada bisnis yang bisa mendatangkan omset besar. Karena kalau pendidikan itu bicara jangka panjang. Dan kalau memang kita peduli dengan pendidikan, inilah investasi jangka panjang itu sebenarnya karena kita bicara pembangunan SDM seumur hidup.

Karena itulah penting dilakukannya proses seleksi. Karena sebuah pendidikan tetap harus memiliki kurikulum, memiliki silabus dan segala macamnya. Jadi, paling tidak, kita mempunyai kriteria dasar SDM seperti apa yang bisa kita terima dan kita kembangkan. Yang jelas, karena kami bicara hospitality, maka yang kami pilih adalah SDM yang busa memproyeksikan hospitality itu sendiri. jadi, terus terang, meskipun seorang SDM memiliki tampan tampan atau cantik, tapi senyum saja malas, jutek, maka itu tidak akan masuk pada kriteria kami.

Nah, menghadapai market yang meminta SDM sempurna itu sangat susah. Jadi, bagaimana caranya agar output Star Hotel Institute itu bisa me-support keinginan industri perhotelan pada saat ini? Kebetulan kalau saya dengan Pak Sapto Priantomo (CEO Star Hotel Institute) memiliki ide yang sama. Yaitu bagaimana agar SDM Indonesia bukan hanya dikenal sebagai penghasil TKI.

Karena kalau bicara TKI itu konotasi yang tercipta lebih kepada kurang baik. Tetapi kami ingin mengembangkan lagi agar label tersebut bisa kita hilangkan. Paling tidak, kita bisa berkaca dari negara tetangga, yang sebetulnya SDM mereka pun banyak yang berkeliaran di luar nergara mereka, tapi mereka dipekerjakan dengan jabatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan SDM Indonesia. Karena itu, kita harus merubah kondisi tersebut.

Tags

 
 
 



X
Baca Juga