Business Knowledge

Profesional pun Ingin Jadi Entrepreneur

Gairah wirausaha saat ini sedang menggebu-gebu. Hal tersebut didorong oleh banyak faktor. Uniknya, beberapa individu yang sebelumnya berkarir sebagai professional sejatinya juga ingin menjadi entrepreneur. Ada apa gerangan?

Oleh :   Selasa, 19 Juli 2016   Viewer bisnisupdate.com  370 Hits
Profesional pun Ingin Jadi Entrepreneur
Ketarangan Gambar :  (Ippho Santosa, Owner Khalifah Group/bisnisupdate.com)

Saya  melihat hal tersebut didorong oleh maraknya seminar, buku, majalah, tabloid, komunitas, dan gerakan-gerakan terkait entrepreneurship. Gairah kewirausahaan ini, juga tidak terlepas dari inspirasi-inspirasi yang digelorakan tokoh-tokoh luar negeri, seperti Robert Kiyosaki, Richard Branson, dan Donald Trump dan lainnya yang menggelorakan semangat kebebasan dan kemakmuran.

Tetapi, saya bisa menilai bahwa munculnya wirausaha-wirausaha baru tersebut, juga diakibatkan oleh ketidakpuasan finansial ketika bekerja dan kekangan waktu ketika bekerja, juga didorong buku dan seminar entrepreneurship. Beberapa individu yang sebelumnya berkarir sebagai professional sejatinya juga ingin menjadi entrepreneur. Akan tetapi, berbagai hal masih menyelimuti keyakinannya untuk memulai bisnis. Namun tidak harus dengan bisnis, investasi hasilnya juga bagus.

Banyak cara untuk menjadi entrepreneur.  Tidak harus dimulai dengan nol. Meskipun hal tersebut sah-sah saja, tapi tidak harus. Sebab,  seseorang dapat memulai menjadi pengusaha bisa langsung ke level 4, 5, 6, 7 atau berapa saja. Misalnya dengan membeli franchise atau bisnis kemitraan yang mapan atau investasi pada bisnis yang autopilot atau bermitra dengan pengusaha yang hebat atau berguru pada mentor yang hebat.

 

Akan tetapi, munculnya bibit-bibit entrepreneur baru biasanya belum diimbangi dengan tingkat sustainabilty bisnisnya. Artinya, banyak muncul, juga tidak sedikit yang tumbang. Saya menilai hal tersebut karena tergerak dari buku dan seminar kemudian mereka 'langsung membara'. “Action katanya. Tapi hanya saat membuka. Bukan bertahan apalagi mengembangkan. Begitu sepi, mereka langsung loyo. Jadi, karena tidak siap, tidak gigih, dan tidak berilmu. Itu yang paling nyata.

Lalu, bagaimana seharusnya para entrepreneur menyikapi sebuah kegagalan? Saya meeihat hal itumerupakan sebuah proses yang harus mereka lewati. Sayangnya, ketika gagal mereka malah menyalahkan partner, karyawan, pemerintah dan lain-lain. Sikap seperti itu, layaknya mental pecundang.

Orang seperti itu sulit suksesnya. Padahal yang memilih partner dan karyawan, yah dirinya sendiri. Mestinya introspeksi, belajar, dan berbenah. Untuk dapat bangkit kembali pasca kegagalan, harus belajar. Pahami akar masalahnya. Perlu juga memiliki komunitas dan pembimbing, yang bisa mengantarkan dia naik level.

Meski demikian,saya juga tidak jarang melihat mereka yang tumbuh dan berkembang. Di mata saya, mereka merupakan sosok yang gigih dan mau belajar. Tidak mengandalkan apa yang dia tahu saja. Awal-awal berbisnis, mungkin asal buka saja. Namun untuk membesarkan bisnis, diperlukan strategi. Tidak bisa asal-asalan. Dengan demikian, belajar adalah suatu keniscayaan. Tentu saja, bukan sembarang belajar, melainkan belajar intens bersama ahli-ahlinya. Karena, dengan belajar akan terjadi percepatan.

Secara teoritis tahapan-tahapan yang benar untuk menjadi entrepreneur sukses, ada tahap memulai, bertumbuh, dan berkembang. Ini beda semua caranya. Selain itu, motivasi juga penting tapi bukan segalanya. Bawa gerobak? Bawa sepeda? Bisa coba-coba.Tetapi ketika membawa helikopter? Bawa pesawat? PERLU ILMU. Tidak bisa coba-coba. Penjualan, bisnis, dan karier, kalau mau besar, yah mesti dengan ilmu.

 

 

Tags

 
 
 



X
Baca Juga