Business Knowledge

Nilai Investasi Tak Bisa Jadi Ukuran Menjanjikan-Tidaknya sebuah Bisnis

Banyak pertimbangan yang pastinya dipikirkan oleh seseorang sebelum mengambil sebuah peluang bisnis. Besar-kecilnya sebuah nilai investasi yang ditawarkan pun menjadi salah satu pertimbangannya.

Oleh :   Senin, 18 Januari 2016   Viewer bisnisupdate.com  799 Hits
Nilai Investasi Tak Bisa Jadi Ukuran Menjanjikan-Tidaknya sebuah Bisnis
Ketarangan Gambar :  (Reiner Rahardja (Founder & Executive Director of The Accelerator))

Resminya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada pembuka tahun 2016, tak pelak menjadi pemicu pemerintah Indonesia dalam menggenjot habis-habisan para warganya agar lebih memilih menjadi seorang entrepreneur ketimbang menjadi pegawai. Terlebih, maraknya pemberitaan PHK massal akhir-akhir ini menghantui banyak karyawan di berbagai industri di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijabarkan oleh Reiner Bonifasius Rahardja, dari 2013-2014 Indonesia mengalami peningkatan wirausaha kurang lebih sebanyak 200 ribu orang. Di dalamnya, terdapat pengusaha dengan pegawai tidak tetap maupun pegawai tetap.

“Perkembangan bisnis berkonsep kemitraan pun sudah sangat menjamur sejak 10 tahun belakangan. Saya pun dulu memulai bisnis dari usaha kecil yang menggunakan konsep kemitraan. Namun satu hal yang harus selalu diperhatikan oleh calon mitra sebelum memilih, yaitu kualitas dari pendiri usaha tersebut,” ungkap Reiner.

Menurutnya, saat ini ada banyak sekali produk dan konsep kemitraan abal-abal yang sembarangan, sehingga banyak mitra baru yang merasa dirugikan. Sejatinya, Reiner mengatakan, maraknya konsep bisnis kemitraan yang abal-abal di Indonesia dipicu karena pada dasarnya semua jenis bisnis di dunia dapat difranchisekan. Hingga tak pelak banyak orang yang berlomba-lomba terjun ke dalam sistem ini.

Karena itulah, pria yang berhasil menembus angka total penjualan seperempat triliun di usia 26 tahun ini, tidak menganggap bila besar-kecilnya sebuah nilai investasi sebagai acuan tersendiri menjanjikan atau tidaknya bisnis tersebut untuk ke depan. Sebab, menurutnya, banyak sekali bisnis dengan modal cukup besar yang ternyata tidak memiliki prospek bagus sehingga angka kegagalannya pun cukup tinggi.

“Bisnis dengan angka investasi kecil jika dilakukan dengan sangat baik dan gencar, maka skala bisnisnya pun menjadi besar. Dan bisnis ini bisa memberikan banyak kualitas yang diberikan oleh bisnis lain dengan skala investasi yang jauh lebih besar. Karena bisnis dengan investasi kecil harus bergerilya dan mengakselerasi bisnisnya secara cepat dan gila-gilaan,” tukasnya.

Lebih lanjut lagi, Reiner menilai dari kacamata praktisinya sebagai seorang pebisnis, ada tiga faktor utama yang bisa dilihat untuk menilai menjanjikan atau tidaknya sebuah bisnis. Tiga faktor tersebut ialah kekuatan aktivitas marketing dari bisnis tersebut, di mana di dalamnya pun termasuk aktivitas branding dan public relations. Lalu, aktivitas penjualan dan sistem penjualan yang diterapkan. Dan yang terakhir ialah kekuatan multiplikasi dari keuangan.

“Intinya, kualitas sebuah bisnis tidak bisa dilihat hanya dari skala investasi, tapi harus dilihat juga dari kualitas Si pengusaha yang mampu menguasai teknik berbisnis terapan yang benar. Kembali lagi kepada komunitas dan edukator bisnis yang ia miliki, tanpa dua hal itu, ya, siap-siap menjadi 80% pengusaha yang gagal di 3 tahun pertama,” tukasnya.




X
Baca Juga