Business Knowledge

Ingin Tetap Eksis di Era VUCA? Begini Caranya

Oleh :   Senin, 15 Mei 2017   Viewer bisnisupdate.com  697 Hits
Ingin Tetap Eksis di Era VUCA? Begini Caranya
Ketarangan Gambar :  (Dr. Gancar C. Premananto, Ketua Program MM FEB Universitas Airlangga, Surabaya)

Perubahan datang tanpa permisi dan informasi, menjadikan dunia bisnis selalu berada dalam kondisi no comfort zone. Jika anda ingin menang dan tetap jadi kampuin di industri Anda, maka tak ada cara lain kecuali harus tetap waspada, dan selalu memasang mata dan telinga, memantau berbagai perubahan yang terjadi. Bagaikan seekor hiu yang tidak henti bergerak. Itulah yang dimaksud oleh Stefan Engeseth dalam bukunya “Sharkonomics: How to Attack Market Leader” Begitulah yang harus dilakukan oleh para manajer saat ini. Para manajer tersebut, menurut hemat saya, mereka harus dapat menganalisis terjadinya perubahan di dunia luar. Apalagi perubahan yang terjadi di luar saat ini berlangsung lebih cepat dari yang kita bayangkan, akibat perkembangan IT.

Seperti dalam sebuah lomba lari, bila terlambat sedikit, walaupun hanya sepersekian detik akan tertinggal dan kalah. Nah, mereka yang duduk di managerial level harus punya kompetensi untuk membaca arah angin ini. Diantaranya adalah kemampuan membaca kondisi internal dan ekternal (SWOT analysis competencies). Dan para pimpinan pun harus terus menerus mengasah ketajaman kemampuannya dalam membaca perubahan lingkungan. Dimana saat ini kemampuan membaca lingkungan harus menjadi salah satu kompetensi utama dari para pimpinan. Jika tidak, maka kepunahan sudah pasti di ada di depan mata. Mau tidak mau mereka harus paham era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity & Ambiguity)

Bukan hanya membaca, menganalisis dan menjadi bagian dari perubahan. Sebuah institusi untuk menjadi nomer 1, malah harus menjadi trend setter perubahan. Bukan hanya sekedar mengikuti perubahan, namun bahkan menciptakan perubahan. Sedikit berbeda dengan lomba lari, dalam lomba lari ada masanya pemenang menikmati kemenangannya. Dalam bisnis, hampir tidak ada kesempatan menghela nafas menikmati kemenganan, karena pesaing akan selalu mencari celah untuk menyalip posisi.

VUCA


Mari kita bahas satu persatu analisa VUCA. Volatility, merupakan kondisi dimana pasar bisnis mengalami perubahan dinamis yang cepat. Tidak ada kepastian bahwa bila perusahaan menjadi market leader, maka selamanya ia akan menjadi market leader. Perusahaan seperti Kodak, Nokia, Blackberry, sering menjadi contoh begitu cepatnya perubahan terjadi. Dari something become nothing atau sebaliknya adalah hal yang mungkin terjadi saat ini. Maka merumuskan, menjalankan dan mengevaluasi strategi harus senantiasa dilakukan

Uncertainty, menunjukkan kondisi lapangan penuh ketidakpastian. Nah, tidak ada jaminan untuk sukses bagi sebuah produk baru yang akan diluncurkan. Inilah yang tidak bisa dibaca secara tepat oleh para manajer pemula. Mereka yang tidak punya passion di bidang branding, marketing, selling, atau bisnis biasanya gagap membaca perubahan ini. Selain faktor pengalaman dan intuisi yang bisanya secara terus menerus diasah tajam. Juga diperlukan dukungan riset dengan tingkat akurasi yang kuat biasanya akan mampu membaca arah angin secara tepat.

Tak heran jika banyak perusahaan besar di Indonesia yang melakukan survei sebelum mereka memutuskan untuk membuat perencanaan atau mengeksekusi sebuah strategi marketing atau branding. Kekuatan riset ini biasanya di-blend oleh visi yang tajam dari para manajer atau CEO yang ada di sebuah perusahaan. Walaupun tidak semuanya sukses, namun banyak perusahaan yang menempuh strategi tersebut dapat survive dan mampu mengakuisisi konsumen baru di masa yang akan datang. Perusahaan seringkali harus memiliki berbagai langkah antisipasi, membuat skenario A hingga Z, menjadi salah satu solusinya.

Complexity, merupakan kondisi bahwa sesuatu hal tidak terjadi karena dan berdampak pada satu atau beberapa hal saja. Kondisi bisnis memang tidak dapat ditentukan dengan pendekatan riset pembuatan model diatas kertas saja. Diperlukan pemahaman komprehensif terhadap faktor-faktor internal-eksternal, makro-mikro. Sehingga dibutuhkan tim yang multidisiplin dan multiperspektif.

Ambiguity, merupakan kondisi dimana kita tidak benar-benar yakin atas informasi dan realitas yang kita dapatkan. Karena data dan informasi yang kita dapat bisa terlalu optimis atau pesimis terhadap sebuah kondisi pasar. Namun kita tetap harus ambil keputusan dengan kondisi tersebut. Untuk itu diperlukan upaya menangkap dan triangulasi data dan sumber informasi. Perusahaan harus memiliki sistem yang mampu menangkap berbagai informasi yang saat ini jumlahnya sangat besar untuk ditangkap. Dan IT telah menyediakan kesempatan untuk menangkap big data yang berseliweran di alam maya. Namun setelah ditangkap, sekali lagi dibutuhkan pemimpin yang mampu menginterpretasikan hasilnya.

Bagaimana menghadapi perubahan jika ada kondisi demikian? maka perusahaan harus mampu menciptakan future leader yang berbasis pada visi ke depan dan kompetensi menganalisa masa depan dan membaca arah angin. Karena itu, mau tidak mau mereka, para managerial level tersebut, harus paham VUCA. Dengan demikian, maka jiwa Intrapreneurship harus tetap dikembangkan dalam perusahaan besar sekalipun. Jika tidak maka mereka akan tergeser oleh Entrepreneur muda. Inilah kondisi dimana era distruptif inovatif itu datang dab benar-benar tengah kita alami. Sustainable innovation yang dibangun perusahaan besar, bisa saja terkalahkan oleh Disruptive Innovation yang dibentuk oleh wirausahawan muda.

Karena itu, cara untuk sukses eksis/bertahan di era VUCA dan inovasi ini secara sederhana dapat saya munculkan istilah DARE; Diagnose/Understanding The Changes. Setidaknya pimpinan perusahaan harus memahami bahwa dunia bisnis saat ini dan ke depan sudah memiliki perubahan yang signifikan. Bahkan harus memiliki visi yang melampaui perubahan yang di saat ini. Pemahaman yang harus dilakukan diantaranya adalah terutama pada pelanggan dan pesaing utama.


Activate Sharkonomics. Implementasi kegiatan dengan cepat namun tetap efektif dan waspada merupakan tantangan selanjutnya. Perusahaan harus mampu menyiapkan sumber daya, modal, sistem, untuk menghadapi perubahan. Pemimpin harus mampu mentransformasikan visinya ke dalam perusahaan agar tidak terjadi hambatan internal. Berbagai program dapat dilakukan unlitas tuk persiapan berlari melaju. Workshop, Benchmark, Knowledge Sharing, Brainstorming Team adalah beberapa contoh aktivitas yang dapat dilakukan untuk membangun Digital Awareness di kalangan internal. Sehingga mereka paham dan bisa melakukan pekerjaan dan dapat mencapai target perusahaan dengan baik.


Relationship. Semua aktivitas juga ditujukan untuk membangun hubungan jangka panjang, baik dengan konsumen, supplier, distributor, investor, maupun regulator. Aktivasi sistem dengan memanfaatkan kemajuan IT, digital-internet dan gadget, menjadi salah satu keharusan. Menghadapi perubahan tidak dapat dilakukan secara sendiri, butuh soliditas internal untuk dapat melaju pada arah yang sama. Butuh kolaborasi dan integrasi dengan berbagai pihak agar dapat tetap bertahan dan memunculkan diferensiasi.


Evaluation. Semua aktivitas harus dapat diukur efektivitasnya. Akuntabilitas aktivitas akan meningkat untuk dipertanyakan terhadap investasi yang dilakukan. Bahkan sejak awal diperlukan pengamatan terhadap bagaimana menyusun KPI atribut kesuksesan. (Key Performance Indicator). Saat ini, banyak strategi untuk pengukuran aktivasi digital lebih mudah dilakukan, mengingat data langsung dapat ter-record berkaitan dengan respon audiens mengenai berapa yang like/dislike, komentar positif/negatif, subscribe, follower dan sebagainya. Semuanya tersedia dan bisa dicari dengan mudah. Hanya soal validasi data, digital activation memang belum sepenuhnya dapat dipercayai, mengingat banyak akun samaran.

Ingin eksis di era digital? Anda bisa mencoba langkah DARE diatas. Semoga berhasil

Tags

 
 
 



X
Baca Juga