Business Knowledge

Cara Bijak Mengelola THR untuk Mendukung Stabilitas Keuangan Jangka Panjang

Oleh :   Senin, 19 Juni 2017   Viewer bisnisupdate.com  297 Hits
Cara Bijak Mengelola THR untuk Mendukung Stabilitas Keuangan Jangka Panjang
Ketarangan Gambar :  (Ilustrasi)

Pekan ini perusahaan-perusahaan banyak yang sudah memulai membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada para karyawannya. Bersamaan dengan situasi yang membahagiakan bagi para karyawan yang tak lama lagi merayakan Hari Raya Idul Fitri, beragam program promosi belanja yang memikat pun telah berderet menanti. Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, hampir semua program promosi diborong oleh konsumen dan THR pun akhirnya banyak yang tidak bersisa karena habis untuk keperluan belanja.

“Di penghujung Mei dan awal Juni kita telah disuguhi beberapa hasil survei yang hampir semuanya membahas prakiraan kenaikan tingkat konsumsi barang menjelang Hari Raya Idul Fitri, terutama sandang dan makanan. Secara khusus bahkan ada survei yang mengungkap bahwa mayoritas konsumen belanja daring yang rata-rata adalah kalangan muda akan meningkatkan jumlah pengeluaran untuk berbelanja kebutuhan di Bulan Ramadhan dan Lebaran nanti. Dari survei diketahui bahwa sebagian besar konsumen (52,20%) akan menggunakan THR untuk keperluan tersebut. Bahkan, ada yang telah merencanakan akan menggunakan pula tabungan (23,90%) dan gaji (23,90%) mereka,” ujar Shierly Ge, Chief Marketing Officer Sun Life Financial Indonesia.

Di Indonesia, meningkatnya jumlah pengeluaran di Bulan Ramadhan terutama untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya adalah hal yang wajar dan bahkan telah menjadi keniscayaan. Sebab, perayaan Lebaran sudah menjadi tradisi dan budaya. Namun, apakah lantas THR boleh dihabiskan begitu saja untuk kepentingan belanja apalagi dengan dalih mumpung banyak digelar promosi-promosi menarik? Inilah yang harus dikaji dengan seksama agar individu-individu di negeri ini memiliki budaya bijak dalam mengelola keuangan dan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya membangun stabilitas keuangan.

THR adalah Pendapatan Ekstra yang Harus Dikelola dengan Bijak

Shierly mengatakan THR tidak ubahnya adalah gaji ketigabelas yang sebaiknya tetap disisihkan sedikitnya 10% dari jumlah keseluruhan guna kepentingan finansial jangka panjang. Semakin besar yang dapat disisihkan tentu saja akan semakin baik.

“Idealnya, ambil dana THR untuk memenuhi beragam kebutuhan utama Hari Raya yang sudah dialokasikan sejak awal. Bagi Muslim, tentu ada sebagian dana untuk membayar zakat, tambahan kebutuhan makanan di saat Hari Raya tiba, transportasi untuk silaturahmi hingga membeli baju baru seperlunya. Jika memang masih ada baju yang belum pernah digunakan, mengapa pula harus mengeluarkan dana untuk pembelian baju baru?,” ujarnya.

Dana THR juga dapat digunakan untuk membayar tagihan utang jika ada agar jumlah utang bisa berkurang atau segera terlunasi. Untuk membayar premi asuransi, agar disiplin, dapat tetap menggunakan dana yang sudah dialokasikan dari gaji. Namun, jika jumlah THR yang diterima besar, tidak ada salahnya digunakan untuk membeli asuransi baru dengan sekaligus melakukan pembayaran untuk premi beberapa tahun ke depan. Langkah lainnya adalah menggunakan sebagian dana THR untuk top up. Terlepas dari besaran THR yang diterima, saran yang sebaiknya diaplikasikan adalah menyisihkan 10% hingga 30% dari THR untuk menabung atau berinvestasi.

“Mengalokasikan sebagian dana THR ke dalam perencanaan keuangan jangka panjang adalah langkah yang bijak yang seharusnya menjadi budaya, khususnya bagi Generasi Millennial atau first jobber yang masih memiliki perjalanan hidup yang panjang serta mempunyai banyak aspirasi maupun kebutuhan yang harus diwujudkan dan perlu dana yang mencukupi. Jika persiapan dananya tidak dimulai dari sekarang, maka ke depannya akan semakin berat,” ujar Shierly.

Berbicara tentang aspirasi dan kebutuhan para Millennial yang harus diwujudkan dan dipenuhi di setiap fase kehidupan mereka tentu sangat beragam. Dari kebutuhan menikah yang perlu biaya besar, dilanjutkan dengan biaya berkeluarga yang salah satu kewajibannya adalah menyediakan dana yang mencukupi untuk pendidikan terbaik bagi anak-anaknya kelak. Di masa depan, jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut tentunya akan lebih besar dari sekarang seiring dengan perubahan nilai mata uang.

Di luar itu, masih ada biaya untuk membeli rumah, kendaraan, berinvestasi, atau bahkan untuk bersekolah kembali di jenjang yang lebih tinggi. Mimpi yang harus direalisasikan sangat banyak dan pendanaannya harus disiapkan dari sekarang jika ingin terlaksana. Kembali ke topik THR yang diterima di masa sekarang, sangat baik jika Generasi Millennial tidak menghabiskan begitu saja untuk kepentingan konsumtif semata – apalagi jika masih menambah pengeluaran dengan mengambil simpanan di tabungan atau bahkan gaji bulanan, melainkan tetap mengalokasikan sebagian dana dari THR untuk kepentingan jangka panjang.

Perhitungkan Kejadian Tak Terduga dengan Perencanaan Keuangan yang Kokoh

Aspirasi atau cita-cita sering kali bisa terukur berapa perkiraan pendanaannya. Namun, bagaimana dengan kejadian tak terduga? Misalnya, tiba-tiba mendapatkan musibah kecelakaan, atau sakit keras. Lebih memberatkan dan berpotensi mengguncang kondisi keuangan jika situasi yang tidak terduga dan tidak diharapkan tersebut muncul di usia tidak produktif atau masa pensiun.

Sekali lagi, memiliki perencanaan keuangan yang tepat sejak usia muda adalah kebijakan paling direkomendasikan untuk diaplikasikan oleh setiap individu, terutama Kaum Millennial yang kini tengah membangun karirnya. Begitu memiliki pendapatan tetap, hal pertama yang sebaiknya dipikirkan adalah memiliki tabungan dan membeli produk yang mampu memberikan jaminan perlindungan jangka panjang, seperti asuransi.

Khusus untuk asuransi, Kaum Millennial dapat mempertimbangkan untuk mulai membeli asuransi jiwa. Ini penting, mengingat semakin muda dalam membeli asuransi, maka potensi untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan optimal juga semakin besar. Sebab, beban premi akan lebih rendah dibandingkan jika membeli asuransi di saat usia tak lagi muda. Abaikan jika muncul pendapat bahwa asuransi jiwa hanya pantas dimiliki oleh kepala keluarga guna menjamin kesejahteraan keluarga, karena pendapat itu tidak tepat. Faktanya, saat lajang pun kita tetap membutuhkan proteksi.

Agar tidak salah strategi, disarankan untuk menghubungi perusahaan-perusahaan di bidang layanan finansial guna mendapatkan panduan terbaik dalam mengelola pendapatan, simpanan hingga investasi. Semakin tinggi reputasi penyedia layanan finansial, maka semakin layak untuk dijadikan mitra dalam pengelolaan keuangan.

Mari optimalkan pendapatan yang diperoleh, baik yang berasal dari gaji bulanan, pendapatan tambahan, maupun pendapatan bonus seperti THR sebijak mungkin untuk kepentingan stabilitas keuangan jangka panjang.

Tags

 
 
 



X
Baca Juga