Business Knowledge

Bisakah Menerapkan Pendekatan Marketing Ala Asongan?

Oleh :   Jumat, 02 Juni 2017   Viewer bisnisupdate.com  524 Hits
Bisakah Menerapkan Pendekatan Marketing Ala Asongan?
Ketarangan Gambar :  (Ridwan Mahmudi – Business & Corporate Coach)

Dalam banyak pelatihan dan seminar penjualan, seringkali saya dihadapkan pada pertanyaan standart, “apa tips sukses menjual, bagaimana mempengaruhi pelanggan, rumus anti gagal dalam menjual” dan pertanyaan lain dengan genre yang sama “RAHASIA MENJUAL”. Pertanyaannya mengkerucut pada kesimpulan bahwa mereka mau shortcut, mau instant dan to the point.

Faktanya, yang instan dan to the point itu ada. Datanglah ke terminal bus. Anda akan menemukan penjualan yang To The Point, Instan, gak banyak mikir, gak perlu banyak ilmu. Di terminal, anda akan menemukan Pedagang Asongan.

CARA BERJUALAN

Biasanya para pedagang asongan di akan menawarkan produk secara langsung. Contohnya, “Rokok,,rokok,,,rokok... teh kotak.... aqua.... aqua.... Tahu ,,,Tahu...”.  Selalu ada kesamaan model atau cara berdagang yakni: langsung menyebut nama produk dan disebutkan secara berulang ulang. Jadi cara menjual Asongan itu adalah dengan langsung menyebutkan produk secara berulang-ulang.

Produk apapun yang anda jual (produk banking misalnya), selama cara jualnya dengan to the point menyebut produk, maka teknik menjual yang anda pakai sama dengan Asongan tadi. Tanpa mengenal siapa customer anda, apa kebutuhan mereka, bagaimana kesukaan mereka, pokoknya sebutkan produk dan lakukan berulang ulang, maka sama saja dengan Asongan (dalam hal cara jualan). Maka lengkaplah nama marketing yang to the point ke produk itu sebagai: Asongan Officer (AO) he he he

ALASAN MEMBELI

Cara Asongan berjualan ada yang dengan cara membagi-bagikan barang ke penumpang lantas beberapa saat kemudian barang itu diambil kembali. Atau ada juga yang dengan memelas cara menawarkannya. Sehingga, kalau ditanyakan: apa alasan orang membeli ke pedagang asongan? Bukankah produknya tidak terjamin keasliannya? Bukankah harganya lebih mahal? Ternyata jawaban yang muncul, mengkerucut pada 2 alasan utama:

  1. Membeli karena terpaksa.

Terpaksa karena khawatir tertingggal bus, terpaksa karena takut ama penampilannya (bertato misalnya), terpaksa karena kepepet dan lain lain.

  1. Membeli karena kasihan.

Sebungkus tissue, kita mungkin belum terlalu perlu. Namun ketika seorang anak kecil atau kakek renta menawarkan nya ke  anda, mampukah anda menolak? Kenapa membeli?

Nah, di Industri lain (banking misalnya), kita juga sering menjumpai alasan yang sama untuk membeli. Saya sangat Yakin bahwa bahwa jika anda datangi calon pembeli anda pagi siang malam terus menerus selama 7 hari tanpa henti maka mereka akan membeli produk anda (asalkan mereka ada kemampuan). Bukan karena butuh, tapi agar terbebas dari gangguan anda alias terpaksa atau mereka kasihan pada diri anda, pada kegigihan anda, sambil berkata “ya sudahlah, saya beli ”

HASIL YANG DIDAPAT

Berapa hasil yang didapatkan dengan menjual ala Asongan? Sejujurnya, ketika membeli ke Asongan, saya membeli “sekedarnya” alias hanya untuk keperluan sesaat saja. Melepas haus, memenuhi rasa kasihan atau sekedar menghindarkan diri dari situasi terpaksa. Tentu tidak besar bukan? Mari kita ilustrasikan  seandainya di kantong anda ada uang 100.000 dan 2.000. jika datang kepada anda seorang yang minta dikasihani. Uang yang mana akan anda berikan? Kebanyakan akan memberikan uang yang lebih kecil bukan?

Pun di berbagai industri, ketika anda menjual hanya berdasarkan belas kasihan atau terpaksa membeli, maka bersiaplah  untuk mendapat jawaban; Minimalnya berapa?

Jadi, masihkah mau menjual ala Asongan?

*dikutip dari buku saya: Kitab Sales Menjual Tanpa Menjual

Ridwan Mahmudi – Business & Corporate Coach

Tags

 
 
 



X
Baca Juga