Business Knowledge

Bagaimana Cara PR Mengatasi Krisis?

Oleh :   Rabu, 12 Juli 2017   Viewer bisnisupdate.com  159 Hits
Bagaimana Cara PR Mengatasi Krisis?
Ketarangan Gambar :  (Founder LSPR Prita Kemal Gani)

Krisis terjadi setiap hari, dan hampir setiap hari pula media memberitakan krisis. Dalam masa krisis, reputasi dan kelangsungan hidup organisasi diuji. Di sini tanggapan perusahaan terhadap krisis lebih sebagai tanggung jawab, karena keputusan dan langkah yang diambil menentukan kelangsung organisasi ke depannya.

Pada kenyataannya, tidak semua krisis dapat dihindari. Demikian pula, tidaklah mungkin bagi organisasi untuk mencegah dan menutupi pemberitaan media.

Untuk mempersiapkan strategi menghadapi krisis, perusahaan harus mengenali siklus dari krisis itu sendiri. Tahapan krisis sendiri bisa dibagi menjadi:

Pertama, tahap awal atau yang disebut prodromal, ditandai dengan munculnya berbagai ‘sinyal’ yang menurut anggota organisasi untuk tanggap. Sayangnya, sinyal tersebut cenderung dilupakan, karena perusahaan masih dianggap “lincah”.

Pada tahap ini timbul keresahan di kalangan karyawan, misalnya saja menuntut kenaikan gaji atau muncul peraturan pemerintah. Bila situasi-situasi seperti itu tidak bisa diatasi, maka perusahaan bisa terjerumus pada masalah yang lebih rumit.

Kedua, yang disebut dengan tahap akut. Para pengelola organisasi jika mengalami tahapan ini mungkin mulai berteriak, “Telah terjadi krisis!”. Padahal sesungguhnya, cikal bakal krisis sudah terjadi pada tahap sebelumnya (prodromal). Pada tahap akut, seiring dengan berbagai masalah yang terjadi pada organisasi, kecepatan dan intensitas masalah semakin cepat, bahkan nyaris tidak teratasi.

Ketiga, tahap kronis, merupakan tahap di mana badai yang terjadi perlahan mulai reda. Bila krisis diibaratkan reruntuhan bangunan, maka kita kemudian akan menemukan puing-puing reruntuham. Keempat adalah tahap tahap resolusi (penyembuhan). Permasalahan yang terjadi mungkin sudah diatasi namun masih tersisa berbagai “rasa sakit”, dengan intensitas kecil atau ringan.

Lalu, bagaimana penanganan krisis? Ada serangkaian langkah yang bisa ditempuh; pertama, melakukan identifikasi terhadap krisis. Tindakan identifikasi hanya bisa dilakukan selama kita memiliki fakta dan data yang akurat, lengkap dan jelas.

Dari manakah itu? Tidak ada cara lain, melalui kemampuan observasi yang didukung kemampuan riset yang baik. Dengan berbekal data, fakta, da informasi yang dikumpulkan makan kita bisa beranjak menuju langkah berikutnya yaitu menganalisis krisis. Data dan fakta yang dikumpulkan pada tahap identifikasi berbagai penyebab krisis. Praktisi PR bisa mendapatkan gambaran mengenai situasi yang terjadi sebelum pada akhirnya menemukan solusi atas masalah dan mengomunikasikan kepada publik.

Selanjutnya, mengisolasi krisis. Tujuannya agar krisis yang sudah terjadi tidak menimbulkan rentetan masalah lain. Mengisolasi krisis tidak berarti menutup-nutupi fakta atau berbohong kepada publik.

Seornag praktisiPR perlu memberikan saran dan masukan kepada pimpinan untuk melakukan komunikasi yang efektif dan efisien, baik secara internal maupun eksternal organisasi, agar krisis diisolasi.

Tahap selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah menentukan strategi secara generik. Sebelum melakukan langkah-langkah komunikasi untuk mengendalikan krisis, organisasi perlu melakukan penetapan strategi secara generik yang ditempuh dengan strategi defensive, misalnya dengan mengulur waktu, strategi adaptif; dengan mengubah kebijakan termasuk kompromi; atau stategi dinamis yang sifatnya sangat makro misalnya menggandeng kekuasaan, melakukan investasi baru, merger, akuisisi, dll. Terakhir adalah program pengendalian. Ini adalah tahap yang ditempuh menyusul strategi yang telah dirumuskan.

Oleh: Prita Kemal Gani

Founder London Scholl Public Relation

Tags

 
 
 



X
Baca Juga