Brand Update

Waspada! Inilah Medsos yang Paling Banyak Konten Pornografi

Waspada! Inilah Medsos yang Paling Banyak Konten Pornografi
Ketarangan Gambar :  (Twitter)

Jakarta, BisnisUpdate.com - Penyebaran konten-konten negatif seperti konten pornografi dan berita Hoax sangat masif di media sosial. Baru-baru ini, WhatsApp juga tersangkut kasus penyebaran konten pornografi dalam bentuk format GIF.

Selain WhatsApp, ada aplikasi media sosial yang paling banyak menjadi penyebaran konten-konten negatif yaitu Twitter. Padahal, pengguna Twitter di Indonesia tidak sebesar Facebook dan Instagram.

Noor Iza (Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika) mengatakan pemerintah bisa mengetahui jumlah penyebaran konten-konten negatif berdasarkan jumlah pelaporan aduan yang berasal dari masyarakat, kementerian atau lembaga.

"Berdasarkan data kami, Twitter adalah platform media sosial paling banyak ditemukan konten negatifnya," katanya di Jakarta.

Pada 2016, Kominfo menerima 3.211 laporan pengaduan konten negatif di Twitter. Pada tahun ini, jumlah pengaduan konten negatif pada Twitter meningkat drastis mencapai 521.407.

"Agustus saja, ada 521.350 laporan yang berkaitan dengan Twitter," ujarnya.

Selain Twitter, Facebook dan Instagram juga menjadi platform media sosial yang banyak memuat konten-konten negatif. Keduanya, tercatat ada 1.375 laporan pada 2016 dan 513 laporan pada tahun ini.

Kemudian, ada YouTube dan Google dengan total pengaduan sebanyak 1.114 dan 99 laporan pada tahun ini.

Di posisi buncit ada Telegram. Tahun lalu, ada dua laporan terkait konten negatif. Tahun ini, jumlah laporan pengaduan Telegram meningkat jadi 105 aduan konten negatif di platform-nya.

Terbanyak Konten Pornografi

Hingga saat ini, Kominfo sudah memblokir situs-situs yang mengandung unsur pornografi sebanyak 775.339. Selain situs pornografi, ada situs perjudian sebanyak 6.131, situs penipuan dagang ilegal 2.134 situs, situs pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual 361, situs yang mengandung unsur radikalisme 199 situs dan situs yang mengandung SARA/Kebencian sebanyak 171.

Semuel Abrijani Pangerapan (Dirjen Aptika Kementerian Kominfo) mengatakan Kominfo tidak bisa menghapus sepenuhnya konten-konten negatif di Internet. "Ditutup bisa ada lagi. Jadi, tidak bisa diblokir 100 persen. Mati satu tumbuh seribu," ujar Semuel.

Gencil.Com

Tags

 
 
 



X
Baca Juga