Brand Update

Edukasi, Kunci JobStreet Menangkan Pasar di Online Recruitment Industry

Oleh :   Minggu, 03 September 2017   Viewer bisnisupdate.com  140 Hits
Edukasi, Kunci JobStreet Menangkan Pasar di Online Recruitment Industry
Ketarangan Gambar :  (Faridah Lim, Country Manager JobStreet.com)

Jakarta, BisnisUpdate.com-JobStreet.Com terus mengedukasi penggunanya, baik jobseeker atau pencari kerja maupun perusahaan, yang memasang lowongan kerja. Padahal, Indonesia merupakan pengguna internet terbesar di kawasan ASEAN, namun di satu sisi sebagai pengguna internet terbesar, di sisi lain masih rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia digital.

Menurut Faridah Lim, Country Manager Jobstreet.com, JobsStreet diuntungkan karena early starter, mulai masuk ke Indonesia pada 2006. “Pekerjaan rumah kita saat ini adalah edukasi, terutama dari sisi pencari kerja, tenaga kerja di Jakarta pun masih rendah kepercayaannya terhadap media digital ketika ingin mencari kerja. Ini cukup kontradiktif,” katanya.

Hal tersebut terlihat ketika mereka membuat akun di JobStreet. Mereka, imbuh Faridah Lim, membuat akun di Jobstreet, dan ketika meng-upload CV sama dengan hard copy yang mereka bikin untuk melamar kerja. “Mereka buat CV alakadarnya, tidak update terhadap kondisi dan kemampuan mereka, padahal yang dibutuhkan perusahaan adalah kemampuan terbarunya, yang mungkin saja telah bertambah, baik dari sisi pengalaman kerja ataupun pengetahuan yang ia dapatkan dalam dunia kerja, kemampuan yang bersifat soft skill yang kadangkala tidak tertulis dalam CV mereka,” katanya.

Sehingga CV-nya tidak bisa diproses oleh perusahaan. Ketika seseorang sudah bekerja di Bank selama 3 tahun misalnya, dia mau pindah kerja dan mencari kerja via JobStreet, data di CV-nya saat lulus 3 tahun lalu, seharusnya dimasukkan dengan kualifikasi kemampuannya yang sudah berbeda ketika dia menjalani pekerjaannya selama 3 tahun.

Padahal, katanya, JobStreet mempunyai tools dan sistem yang sangat advance untuk melihat dan mensortir data pencari kerja. Perusahaan punya akun yang sudah sangat advance, dari tahap buka lowongan sampai interviu itu sudah dilakukan by system. “Kandidat yang tidak masuk kualifikasi, biasanya karena memang hanya mengisi CV-nya yang tidak update,” katanya. Nah, fenomena ini banyak terjadi di lapangan.

Di satu sisi perusahaan sudah sangat susah mencari tenaga kerja yang punya kualifikasi bagus, di  sisi lain, banyak tenaga kerja yang hanya asal mencantumkan pengalaman dan kemampuannya di CV yang mereka upload. “Kesenjangan itu sangat besar, di satu sisi cari kerja susah dan mereka tidak tahu cari kerja yang benar. Padahal banyak perusahaan yang luar biasa susah perjuangannya untuk mendapatkan kandidat yang bagus,” katanya.

Apalagi saat ini, jumlah pengangguran mencapai 7 sampai 8 juta orang, dan rata-rata adalah usia produktif, jumlah total populasi usia produktif di Indonesia mencapai 23 juta, atau naik menjadi 28 juta saat ini.

Melihat situasi demikian, Faridah Lim menyatakan bahwa JobStreet sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Untuk menjembatani gap ini, JobStreet selalu mengedukasi HRD untuk update kondisi perusahaan secara berkala, mereka harus tampilkan foto perusahaan, ruangan kerja yang menggambarkan selera dan aura generasi milenial, misalnya ada sofa warna warninya, dan terbuka untuk besaran salary atau gaji, karena saat ini, imbuh Faridah, gaji saat ini bukan lagi urusan confidential atau rahasia, tetapi sudah terbuka dan lazim disebutkan,” katanya.

Karena itu, Faridah menambahkan, saat ini kandidat yang bagus akan selalu mengincar top brand company. Jika ada panggilan interviu, mereka akan browsing perusahaan tersebut dan melihat tools yang ada di JobStreet, salah satunya dengan membuka kanal company review dengan menampilkan review seperti hotel, ada bintang satu sampai bintang 5. “Apakah perusahaan yang mereka lamar itu bintang 5 atau bukan, fasilitas apa yang diberikan perusahaan untuk mereka, dan banyak lagi informasi yang akan mereka gali dari sebuah perusahaan tersebut,” ujar Faridah menambahkan.

Faridah menegaskan, generasi milenial juga akan melihat apakah kantor itu ada play station-nya, sarana olahraganya, karena mereka ingin ruang kerja dibuat seperti kantor Google misalnya. “Jika demikian, pasti banyak pelamar yang datang,” katanya.

Karena tuntutan tersebut, JobStreet kini tak hanya menayangkan iklan lowongan kerja. Tetapi juga membantu menghadirkan banyak kandidat yang dibutuhkan. “Dari sisi perusahaan, kita selalu edukasi mereka untuk update kondisi kantor agar jadi tempat kerja yang menarik buat generasi milenial. Dari sisi sistem, kita juga selalu menambah fitur-fitur baru yang memudahkan perusahaan agar dapat kandidat yang dibutuhkan,” katanya.  

Bahkan JobStreet pun kini semakin intens mengedukasi genetasi milenial melalui berbagai sarana seperti seminar, talkshow di berbagai daerah, email blast, dan lain sebagainya. Faridah mengatakan saat ini banyak perusahaan melakukan efforts lebih besar untuk hire satu kandidat menjadi lebih tinggi. “ Kalau dulu  pemamar tidak banyak, pelamar sekarang sangat banyak, tapi tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan. Yang dibutuhkan perusahaan saat ini jumlah pelamar sediikit tapi sesuai dengan kualifikasi mereka,” katanya.

 Di Indonesia, imbuhnya, jumlah penduduknya over capacity. Tetapi kemampuan dan kualitasnya rendah, bahkan untuk satu posisi dilamar oleh 400  orang pencari kerja. “Di Singapura, satu posisi hanya akan dilamar oleh beberapa orang saja. Mereka hanya cari kerja sesuai dengan minat dan background pendidkan dia. Di Indonesia saking susahnya cari kerja mereka asal lamar dan klik,” katanya.

Faridah menjelaskan bahwa JobStreet ideally seperti marketplace yang menghubungankan antara HRD dan pencari kerja. “Tetapi kami bidang ketenakerjaan kita tidak sepenuhnya menjadi market place. Pekerjaan rumah behind the screen-nya banyak sekali, ini menyangkut human atau people, kita mempertemukan orang seperti biro jodoh. Tetapi bisnis ini lebih sulit dari e-commerce, orang selalu bilang kalau dotcom itu seru, padahal  industry recruitment seperti kita tidak hanya tayang, tetapi harus sesuai dengan ekspektasi pemasang iklan, selain tayang dan harus dapat kandidat sesuai dengan kualifikasi yang disyaratkan, sistem juga harus ok, kandidat harus sesuai, dibalik itu kita me-matchingkan kedua belah pihak,” katanya.

JobStreen pun meluncurkan fitur company review dengan tujuan mengedukasi perusahaan  agar perusahaan trasnparan dan mau memberi info sedetail mungkin. “Kita edukasi via sistem, bahwa salary harus dicantumkan, era sekarang job seeker sangat kritis, mereka browsing dulu cari info tentang perusahaan tersebut,” katanya.

Tetapi hal ini belum sepenuhnya diketahui oleh perusahaan. Masih banyak sekarang yang konvensional dan tidak mau direview.

Gencil.Com

Tags

 
 
 



X
Baca Juga