Bisnis Update

Regulasi Menjadi Masalah Besar Bagi Industri Makanan dan Minuman

Oleh :   Kamis, 22 September 2016   Viewer bisnisupdate.com  326 Hits
Regulasi Menjadi Masalah Besar Bagi Industri Makanan dan Minuman
Ketarangan Gambar :  (Istimewa)

Bisnisupdate.com, Jakarta – Saat ini potensi industri makanan dan minuman sangat besar, baik di Indonesia ataupun di pasar global. Ini seiring dengan pertumbuhan populasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang begitu pesatnya. Ditambah, gaya hidup saat ini begitu mendukung akan hal tersebut.

Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia) Adhi S Lukman membenarkan hal itu, menurutnya pertumbuhan industri makanan dan minuman sangat pesat sekali, ini didukung oleh meningkatnya populasi dan ekonomi belakangan ini, serta gaya hidup yang semakin mengharuskan masyarakat Indonesia membeli makanan dan minuman yang serba praktis.

“Kontribusi makanan olahan di GDP (Gross Domestic Product) sangat besar dan sangat berpotensi. Saya lihat dari berbagai survey juga, salah satunya ASEAN menjadi pasar terbesar dengan 650 juta penduduk, dengan potensi pasar yang cukup baik kita harus memanfaatkan itu,” jelasnya di Jakarta Rabu (21/9).

Apa lagi dengan penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa, itu berarti kurang lebih 40 persen penduduk ASEAN berasal dari Indonesia. Peluang tersebut harus didukung dengan kesiapan Indonesia untuk memproduksi dan mencukupi permintaan negara-negara ASEAN.

Adhi menambahkan, hambatan-hambatan  dalam bisnis makanan dan minuman memang besar sekali, terlebih bila di kaitkan dengan regulasi yang selalu berubah-ubah. Setiap negara regulasinya pasti berbeda-beda pula. Apa bila teknologi baru ditemukan atau dikeluarkan, otomatis regulasi yang ada juga ikut berubah.

“Belum lagi konsen tentang kekurangan gizi dan kelebihan gizi, nah ini juga tantangan tersendiri untuk kita. Sehingga industri makanan dan minuman harus waspada dan harus sering mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada,” tambahnya.

Sementara itu, berhubungan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menurut Adhi tidak ada masalah, masalahnya justru datang dari keharmonisan antara negara di ASEAN itu sendiri. Ini terlihat mulai dari setiap negara yang memiliki sertifikat halal sendiri sampai berbedanya logo produk di setiap negara.

“Belum lagi terkait sistem registrasi, di ASEAN yang bebas untuk melakukan registrasi hanya di Singapura dan Malaysia. Jadi jika kita mengeluarkan produk baru, tidak perlu registrasi lagi. Selain dua negara tersebut ya harus melakukan registrasi terlebih dahulu,” ungkapnya.

Bukan main-main, diharuskannya melakukan registrasi menjadi salah satu hambatan terbesar. Dianggap memiliki proses yang sangat lama, dimana paling cepat proses registrasinya sekitar 1 sampai 2 tahun.

Salles Ngepet



X
Baca Juga