Bisnis Update

Pro dan Kontra Kenaikan Harga Rokok

Oleh :   Kamis, 25 Agustus 2016   Viewer bisnisupdate.com  4550 Hits
Pro dan Kontra Kenaikan Harga Rokok
Ketarangan Gambar :  (Ilustrasi)

Bisnisupdate.com, Jakarta – Desas-desus wacana tentang kenaikan harga rokok akhir-akhir ini semakin kencang beredar. Hal tersebut menjadi pro dan kontra tersendiri antara, perusahaan, masyarakat, dan tentunya negara.  

Dalam keterangan tertulisnya, Senin, (22/8), Elvira selaku Head of Regulatory Affairs International Trade and Communications PT HM Sampoerna Tbk, menyatakan kenaikan harga yang terlalu tinggi pada produk rokok ataupun kenaikan cukai secara eksesif bukan merupakan langkah yang bijaksana, karena setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga dan cukai rokok harus mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif,” jelasnya.

Dengan tingkat cukai saat ini yang cukup tinggi, tutur Elvira, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp 9 triliun. Hal ini tentu kontraproduktif dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja.

Karena itu, Elvira meminta pemerintah mengkaji pengaruh kenaikan harga rokok dengan daya beli masyarakat. "Jika kita membandingkan harga rokok dengan pendapatan domestik bruto per kapita di beberapa negara, harga rokok di Indonesia lebih tinggi dibanding Malaysia dan Singapura."

Wacana besaran harga Rp 50 ribu per bungkus rokok berasal dari hasil hitung-hitungan penelitian profesor Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Dalam penelitian berdasarkan hasil survei yang dirilis Juli 2016 itu disebutkan harga rokok yang ideal untuk mencegah pelajar dan orang miskin merokok adalah Rp 50 ribu per bungkus.

Pengumpulan data dilakukan sejak Desember 2015 sampai Januari 2016, dengan jumlah responden 1.000 orang. Hasilnya, 82 persen responden setuju harga rokok dinaikkan. Bahkan, 72 persen responden menyatakan setuju harga rokok dinaikkan menjadi di atas Rp 50 ribu, untuk mencegah pelajar merokok.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Margo Yuwono menyebutkan keberadaan rokok kretek filter dinilai menjadi penyebab salah kemiskinan di Jawa Tengah setelah beras. Temuan itu berdasarkan survei profil kemiskinan BPS Jawa Tengah pada periode September 2015 hingga Maret 2016.

Lebih jauh, menurut Willem, harus ada kajian dan klarifikasi lebih jelas soal detail penelitian yang menyorongkan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus untuk menurunkan jumlah perokok. "Sampling-nya sudah benar belum? Kalau mau membuat statement, kuatkan dulu alasannya." ujarnya.

Willem menyatakan, Kementrian Perindustrian mendorong agar pabrik rokok berkembang sesuai peraturan yang berlaku. "Sudah ada undang-undangnya, izin usaha, biaya cukai, ini bukan hal yang ilegal, Kalau kita mau ubah aturan, silakan saja. Tapi jangan dibuat gaduh.” pungkasnya.

Salles Ngepet



X
Baca Juga