Bisnis Update

Pertamina Bukukan Nilai Financial Impact Sebesar US$ 608,41 Juta di 2015

Pertamina Bukukan Nilai Financial Impact Sebesar US$ 608,41 Juta di 2015
Ketarangan Gambar :  (sumber: milemoto.wordpress.com)

Bisnisupdate.com — Seperti yang dikutip di website resmi PT Pertamina (Persero) (www.pertamina.com), Pertamina berhasil membukukan nilai financial impact sebesar US$ 608,41 juta dari inisiatif-inisiatif dan proyek-proyek terobosan perusahaan di sepanjang tahun 2015.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, beberapa Breakthrough Project New Initiatives ditetapkan oleh Pertamina sebagai upaya serius perusahaan dalam mengatasi tantangan bisnis migas, terlebih dengan penurunan harga minyak mentah dunia. BTP New Initiatives tersebut terdiri dari Sentralisasi Procurement (non-hidrokarbon), Perubahan Proses Pengadaan dan Penjualan Minyak dan Produk, Pembenahan Tata Kelola Arus Minyak, Optimalisasi Aset Penunjang Usaha dan Corporate Cash management.

Menurut Wianda, dari inisiatif-inisiatif tersebut Pertamina menargetkan untuk memperoleh impak finansial dengan nilai total US$ 500,4 juta sepanjang tahun 2015. Namun, Wianda mengakui jika nilai target tersebut berhasil dilampaui dengan catatan impak finansial hingga tutup tahun 2015 dengan mencapai US$ 608,41 juta.

“Dalam situasi yang sulit karena harga minyak terus turun, Pertamina harus melakukan terobosan-terobosan, termasuk dalam hal melakukan efisiensi. pencapaian BTP News Initiatives 2015 yang melebihi target menjadi indikasi positif bahwa program-program dapat berjalan dengan baik, bahkan melebihi ekspektasi,” papar Wianda.

Wianda pun menjelaskan, terdapat tiga kontributor utama bagi pencapaian BTP New Initiatives tersebut, yaitu Pembenahan Tata Kelola Arus Minyak yang ditempuh dengan melakukan penekanan losses dengan nilai impak finansial sebesar US$ 255,2 juta, Perubahan Proses Pengadaan Minyak dan Produk melalui evaluasi formula harga dan efisiensi harga penjualan & co-loading untuk parsel impor dengan nilai impak sebesar US$ 208 juta dan Sentralisasi Procurement non-hidrokarbon senilai US$ 90 juta.

Ada juga inisiatif lainnya, yaitu Optimalisasi Aset Penunjang Usaha dan Corporate Cash Management masing-masing berkontribusi sebesar US$ 27,8 juta dan US$ 27,3 juta.

Wianda pun menerangkan jika finansial impak dari Optimalisasi Aset Penunjang Usaha berasal dari cash in dan cost saving baik di unit operasi maupun di kantor pusat. Adapun finansial impak dari Corporate Cash Management bersumber dari efisiensi pembayaran bunga.

Salles Ngepet



X
Baca Juga