Bisnis Update

Konsumen Indonesia Masih Sangat Rentan Dieksploitasi

Konsumen Indonesia Masih Sangat Rentan Dieksploitasi
Ketarangan Gambar :  (Ilustrasi konsumen Indonesia/teropongbisnis.com)

Bisnisupdate.com, Jakarta ― Pada perayaan puncak Hari Konsumen Nasional (Harkonas) 2016 di Lapangan Banteng, Jakarta (26/4), Menteri Perdagangan Thomas Trikasih menyerukan seluruh masyarakat Indonesia untuk berperan aktif memperjuangkan hak-haknya sebagai konsumen.

Menurut Menteri Tom, konsumen Indonesia harus sadar akan kualitas produk sehingga hal tersebut akan mendorong industri dalam negeri untuk meningkatkan mutu. Konsumen cerdas juga mampu membatasi diri dengan hanya mengonsumsi sesuai kebutuhan. “Selain itu, sudah saatnya kita memanfaatkan informasi digital dalam memberikan edukasi kepada konsumen dan mempercepat penyebaran informasi,” tukasnya.

Kendati demikian, menurut pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia Kementerian Perdagangan pada 2015 menunjukkan bahwa keberdayaan konsumen Indonesia baru berada di level paham.

“Artinya, konsumen Indonesia sudah mengenali dan memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, tetapi belum sepenuhnya mampu menerapkan dan memperjuangkannya. Akibatnya, konsumen Indonesia menjadi sangat rentan untuk dieksploitasi,” terang Menteri Tom.

Menurut data yang dipaparkan pada siaran pers Kementerian Perdagangan, dari 1 juta penduduk Indonesia, jumlah pengaduan hanya sebesar 4,1. Sementara di Korea Selatan, jumlah pengaduan konsumen di setiap 1 juta penduduk sudah mencapai 64 pengaduan.

Apabila ditelusuri lebih jauh lagi, rendahnya perilaku pengaduan konsumen disebabkan kurangnya pengetahuan konsumen terhadap institusi perlindungan konsumen yang ada.

Dari survei lain yang dilakukan Kemendag, diketahui hanya 22,2% masyarakat Indonesia yang mengetahui institusi perlindungan konsumen, termasuk mengetahui fungsi dan peranannya. 38,6% masyarakat Indonesia hanya kenal terhadap institusi perlindungan konsumen, tetapi tidak tahu fungsi dan peranan institusi tersebut. Bahkan, sebanyak 39,2% masyarakat Indonesia tidak mengetahui sama sekali mengenai institusi perlindungan konsumen.

Selain itu, demi mendukung perlindungan konsumen, Menteri Tom menyatakan jika pelaku usaha wajib memiliki tata nilai perlindungan konsumen. Semakin konsumen merasa yakin dan terlindungi, maka semakin tinggi pula penggunaan produk dalam negerinya. Pada akhirnya, pelaku usaha dalam negeri justru akan semakin diuntungkan.

“Perlindungan konsumen merupakan prasyarat mutlak untuk menghadirkan perekonomian yang kuat melalui keseimbangan antara kepentingan konsumen dan pelaku usaha,” lanjutnya.

Menteri Tom menegaskan, seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa adalah konsumen. Hal ini berarti konsumen merupakan kelompok ekonomi terbesar. Konsumen juga memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia.

“Potensi konsumen harus mampu dioptimalkan untuk dapat mengambil peran aktif dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi demi kepentingan nasional. Pemerintah dan pelaku usaha harus bersinergi membangun pasar dalam negeri yang kuat,” tegasnya.

Rahardian Shandy

Salles Ngepet



X
Baca Juga