Bisnis Update

Kemenperin Optimis Pengembangan Industri Minuman Ringan Masih Terbuka

Kemenperin Optimis Pengembangan Industri Minuman Ringan Masih Terbuka
Ketarangan Gambar :  (Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima Presiden Direktur Coca Cola Amatil Indonesia, Kadir Gunduz di Kementerian Perindustrian (31/3)/Humas Kemenperin)

Bisnisupdate.com, Jakarta ― Besarnya jumlah penduduk di Indonesia yang disertai dengan pola konsumsi dituding menjadi faktor bertumbuhnya industri minuman ringan di Indonesia. Hal tersebutlah yang memacu ekspansi industri tersebut, baik produksi, distribusi dan pengembangan fasilitas pendukung lainnya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, pertumbuhan bisnis industri minuman turut mendorong realisasi penanaman modal, dan menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung. “Industri minuman turut menggerakkan ekonomi dari produksi, penanaman modal, penyerapan lapangan kerja,” tuturnya saat menerima Presiden Direktur PT Coca Cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz di Jakarta (31/3).

Menteri Saleh melanjutkan, pola ekspansi perusahaan minuman juga mampu menggerakkan perekonomian daerah. Sebab, menurutnya, pelaku usaha berusaha memperkuat pemasaran dengan mendekatkan produksi dan distribusi ke konsumen. Berdirinya pabrik dan pusat distribusi, termasuk pergudangan menjadi buktinya.

Pengamatan Menteri Saleh mengenai pengembangan industri minuman ringan pun disambut oleh komentar Presiden Direktur PT Coca Cola Almatin Indonesia Kadir Gunduz, yang mengklaim bahwa pihaknya akan mengoperasikan mega distribution center ke-4 dan lini produksi ke-6 di Surabaya.

Dan pihaknya telah membelanjakan investasi sebesar US$ 63 juta demi mewujudkan dua fasilitas di Jawa Timur tersebut. “Diharapkan, pusat distribusi itu mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini,” ungkap Kadir Gunduz.

Indonesia sendiri merupakan kontributor terbesar kedua di Coca Cola Amatil Group. Gunduz pun meyakini masih ada banyak peluang produksi dan pemasaran yang dapat dimaksimalkan di Indonesia.

Kementerian Perindustrian pun mengaku optimis peluang pengembangan industri minuman ringan di Indonesia masihlah terbuka. Hal tersebut mengacu pada tingkat konsumsi minuman ringan masyarakat Indonesia yang baru 33 liter/kapita. Sementara negara ASEAN lainnya seperti Thailand mampu mencapai 89 liter/kapita dan Singapura 141 liter/kapita.

Dan untuk mendukung akselerasi perluasan sistem produksi, penyimpanan dan infrastruktur untuk pengadaan minuman dingin di Indonesia, The Coca Cola Company telah mempersiapkan tambahan investasi senilai US$ 500 juta.

Rahardian Shandy

Salles Ngepet



X
Baca Juga