Bisnis Update

Kemenperin Dorong Penggunaan Rupiah di Sektor Industri

Kemenperin Dorong Penggunaan Rupiah di Sektor Industri
Ketarangan Gambar :  (Menteri Seleh Husin bersama Gubernur BI Agus Martowardojo saat memberikan keterangan kepada awak media/Kemenperin)

Bisnisupdate.com, Jakarta ― Kewajiban penggunaan rupiah diatur dalam undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) Nomor 11/DKSP/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI.

Dalam regulasi tersebut, ditegaskan bila setiap transaksi di Wilayah NKRI, baik dilakukan oleh penduduk (Indonesia) maupun bukan penduduk, atau transaksi tunai maupun nontunai, wajib menggunakan rupiah.

Dan dalam hal ini, Menteri Perindustrian Saleh Husin pun melakukan koordinasi pelaksanaan kewajiban penggunaan rupiah di setiap transaksi di sektor industri Indonesia.

“Industri merupakan penggerak utama perekonomian nasional. Untuk itu, kami lakukan koordinasi dalam penerapan aturan kewajiban penggunaan rupiah, khususnya untuk kegiatan di sektor industri,” ujar Menteri Saleh usai bertemu dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo di Kementerian Perindustrian, Jakarta (2/3).

Menurut Menteri Saleh, sudah ada beberapa sektor industri yang sudah melakukan penyesuaian transaksi dengan aturan BI, seperti industri kimia, tekstil dan logam. “Kami dari Kemenperin telah mengirimkan surat kepada pimpinan Asosiasi Industri pada bulan Desember 2015 dan Januari 2016,” terangnya.

Namun, kendati demikian Menteri Saleh menerangkan jika masih ada perusahaan yang mengajukan penangguhan rupiah. Penangguhan tersebut dikarenakan kesiapan sistem pembukuan yang memerlukan updating dari sistem sebelumnya yang menggunakan dollar.

Dan beberapa industri yang memerlukan waktu untuk penyesuaian transaksi dalam mata uang rupiah di antaranya ialah makanan, minuman dan otomotif yang bahan bakunya masih impor. Sementara itu, Menteri Saleh meminta agar industri yang berada di kawasan berikat diberikan aturan khusus karena pola bisnis maklon.

Penggunaan mata uang rupiah dalam transaksi bisnis dinilai Menteri Saleh sangat penting karena dapat menstabilkan nilai tukar rupiah. “Pelaku usaha, kan, mengharap nilai tukar yang stabil karena mereka dapat memperhitungkan, kalkulasi, strategi finansial usaha mereka. Nah, kestabilan ini turut membantu keputusan ekspansi dan investasi ke Indonesia,” paparnya.

Sementara itu, dari hasil review BI, pada tahun 2015, transaksi yang menggunakan valuta asing masih cukup banyak sebesar USD 7 miliar per bulan. Namun, saat ini sudah turun menjadi USD 4 miliar per bulan. “Artinya komitmen semua pihak untuk menjalankan aturan BI sesuai undang-undang semakin tertib," ujar Menteri Saleh.

Rahardian Shandy

Salles Ngepet



X
Baca Juga