Bisnis Update

Industrinya Lesu, BNI Syariah Malah Makin Bersinar

Industrinya Lesu, BNI Syariah Malah Makin Bersinar
Ketarangan Gambar :  (dok BNI Syariah)

Industri jasa keungan, terutama perbankan berbasis syariah sedang mengalami kelesuan. Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Agustianto Mingka mengungkapkan, klesuan itu salah satunya disebabkan karena makin ketatnya tingkat kompetisi bisnis jasa keuangan tahun 2016. Hal tersbut disebabkan oleh berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) dimana untuk industri perbankan hal ini tertuang dalam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF).

Dampak buruk dari MEA, menurut Agustianto, adalah sengitnya persaingan di industri jasa keuangan yang juga akan berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan syariah. Karena sektor ini masih terkendala beberapa masalah seperti keterbatasan modal, sumber dana, SDM dan TI yang belum mumpuni.

Sementara dalam rangka mengembangkan industri perbankan syariah, menurut laporan infobank.com ada beberapa tantangan dan strategis yang harus menjadi prioritas bagi stakeholders perbankan syariah. Salah satunya, yakni inovasi produk keuangan dan perbankan syariah yang merupakan pilar utama dalam pengembangan industri perbankan syariah.

Di tengah kelesuan industri perbankan ekonomi berbasis syariah itu ternyata BNI Syariah bisa tetap berjaya. Di usianya ke 6, BNI Syariah menunjukan prestasi yang cukup membanggakan. Pencapaian itu tidak hanya berupa angka saja tapi juga beragam penghargaan yang didapuknya. 

Dari sisi profitabilitas, triwulan pertama 2016 tercapai sebesar Rp 75,18 Miliar atau naik sebesar 64,62% dibanding tahun sebelumnya Maret 2015 sebesar Rp 45,67 Miliar. Pertumbuhan laba tersebut disokong oleh ekspansi pembiayaan yang didukung dengan kualitas pembiayaan yang terjaga serta rasio dana murah yang lebih baik, di sisi lain operasional efisiensi juga terus membaik.

Menurut pantauan Bisnisupdate.com, dari sisi pertumbuhan aset, BNI Syariah tumbuh sebesar 20,35% dari Maret 2015 sebesar Rp 20,50 Triliun menjadi Rp 24,67 Triliun. Pertumbuhan aset didorong oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,95% dan pertumbuhan DPK sebesar 20,07% dari tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Dari total pembiayaan sebesar Rp 18,04 Triliun sebagian besar merupakan pembiayaan konsumtif 53,18%, disusul oleh pembiayaan produktif/SME 22,2%, pembiayaan komersial 16,75%, pembiayaan mikro 5,69%, dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,15%. Untuk pembiayaan konsumtif tersebut sebagian besar portofolio pembiayaan adalah BNI Griya iB Hasanah sebesar 85,99%. Pencapaian kinerja bisnis tersebut tetap memperhatikan kualitas pembiayaan dimana NPF triwulan pertama 2016 tetap terjaga di level 2,77%.

Seiring dengan pertumbuhan pembiayaan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga meningkat sebesar 20,07% dari tahun sebelumnya atau tumbuh sejumlah Rp 3,49 Triliun dengan rasio Tabungan dan Giro (CASA) sebesar 45,06 %.

Terlepas dari angka-angka, di tahun 2016 ini BNI Syariah pun meraih prestasi yang cukup bergengsi, yaitu meraih membawa pulanag 16 penghargaan dari berbagai pihak. Antara lain The Best Website dan The Best Quick Minded Corporate Secretary for Indonesia Syariah Bank Company dari Economic Review, Peringkat 1 Digital Brand KPR Bank Umum Syariah dalam Infobank Digital Brand 2016, Peringkat 1 The Most Expansive Financing dan The Biggest Contibutor Financing Islamic Full Fledge Bank Equity 1 – 5 Triliun dari Karim Consulting, dan The Best Indonesia Service Quality Award 2016 kategori Perbankan Syariah.

Selain itu, Bank yang mulai beroprasi sejak 19 Juni 2010 ini juga meraih Indonesia Digital Popular Brand Awards. Penghargaan-pengharggaan ini membuktikan bahwa BNI Syariah bukan hanya jaya didunia nyata, tapi juga telah benar-menar menjadi top of mind di dunia digital. 

 

 

Salles Ngepet



X
Baca Juga