Bisnis Update

Industri Kopi di Indonesia Masih Perlu Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

Industri Kopi di Indonesia Masih Perlu Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Ketarangan Gambar :  (Menteri Saleh Husin (Kiri) meminum kopi bersama Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang yang disaksikan oleh Ketua Umum AEKI Irfan Anwar dan Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto/Kemenperin)

Bisnisupdate.com, Jakarta ― Menteri Perindustrian Saleh Husin yang hadir untuk meresmikan Rapat Umum Anggota IX Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) di Jakarta, Kamis (10/3), menyinggung soal pertumbuhan industri kopi di Indonesia yang perlu dukungan pemerintah dan masyarakat.

“Kita punya 11 kopi khas daerah, lazim disebut indikator geografis seperti kopi Gayo, Sindoro-Sumbing, Toraja. Belum lagi kopi yang diolah langsung rekan-rekan petani dan kelompok tani. Nah, salah satu dukungan nyata bisa dilakukan saat kita jalan-jalan. Belilah kopi-kopi di daerah yang kita sambangi,” imbau Menteri Saleh.

Kementerian Perindustrian sendiri mencatat, konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata mencapai 1,2 kg per kapita per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah negara-negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg per kapita per tahun. Namun, pengembangan industri pengolahan kopi di Indonesia dinilai masih cukup baik.

Selain itu, ekspor produk kopi olahan Indonesia tahun 2015 mencapai US$ 356,79 juta atau mengalami peningkatan 8% dibandingkan tahun 2014 Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, China dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, nilai impor produk kopi olahan pada tahun 2015 mencapai USD 106,39 juta. Negara asal impor terbesar adalah Malaysia, Brazil, India, Vietnam, Italia dan Amerika Serikat. Meski demikian, dengan kondisi impor tersebut, neraca perdagangan internasional produk kopi olahan Indonesia masih mengalami surplus sebesar USD 250,40 juta.

Menteri Saleh pun menganggap bila industri kopi nasional masih perlu ditingkatkan lagi. “Pengembangan industri kopi nasional masih perlu ditingkatkan. Karena saat ini baru mampu menyerap sekitar 35% produksi kopi dalam negeri dan sisanya sebesar 65% masih diekspor dalam bentuk biji,” ungkapnya.

“Untuk itu, kami mengharapkan semoga ke depan AEKI dapat lebih berperan bersama pemerintah mengembangkan industri perkopian di Indonesia. Jadi tidak hanya di bidang ekspor kopi saja, tetapi juga mengembangkan di bidang industri pengolahan kopi,” sambung Menteri Saleh.

Ketua Umum AEKI Irfan Anwar pun menegaskan bila AEKI membuka diri untuk semua masukan dan kerja sama yang berkaitan dengan pengembangan industri kopi Indonesia. "Pemangku kepentingan atau stakeholders industri kopi kita mencapai 2 juta, dari petani, pengolah, pelaku usaha coffe-shop, perusahaan hingga eksportir. AEKI membuka diri untuk semua masukan dan kerja sama mengembangkan kopi untuk memantapkan diri di domestik maupun di pasar global," ujarnya.

Rahardian Shandy

Salles Ngepet



X
Baca Juga